Search

Gangguan depresi mayor (depresi klinis) - jenis, gejala, penyebab, dan pengobatan

Tanggal terakhir diperbarui: 29-Jul-2022

General Health

15 menit membaca

Major depressive disorders

Depresi berbeda dengan perubahan suasana hati pada umumnya dan bukan juga sebuah respons emosional jangka pendek terhadap kesulitan sehari-hari. Namun, kondisi ini dapat berlangsung dengan tingkat keparahan sedang hingga berat, dan bisa menjadi masalah kesehatan yang serius. Hal ini dapat menyebabkan mereka yang mengalaminya sangat menderita dan memiliki performa buruk di tempat kerja, sekolah, dan juga keluarga. Akibat terburuk dari depresi adalah bunuh diri.

Depresi merupakan penyakit umum di seluruh dunia yang menyerang lebih dari 264 juta orang. Gangguan depresi mayor merupakan salah satu bentuk skizofrenia yang paling umum. Gangguan ini memengaruhi hidup satu dari setiap enam pria dan satu dari setiap empat wanita.

Gangguan depresi mayor (MDD) adalah kondisi parah yang ditandai dengan suasana hati yang buruk, minat yang menurun, fungsi kognitif yang terganggu, dan gejala vegetatif seperti tidur atau makan secara tidak teratur. MDD memengaruhi hidup satu dari setiap enam orang dewasa dan sekitar dua kali lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria.

 

Gejala gangguan depresi mayor

Gejala gangguan depresi mayor (MDD) antara lain:

  • Merasa tertekan hampir setiap hari
  • Kehilangan minat terhadap kegiatan yang pernah Anda gemari
  • Adanya perubahan nafsu makan atau berat badan
  • Mengalami kesulitan tidur
  • Merasa malas atau gelisah
  • Energi rendah
  • Merasa putus asa atau tidak berharga
  • Mengalami kesulitan berkonsentrasi
  • Sering berpikir tentang kematian atau bunuh diri

 

Depresi kambuhan:

Kondisi ini juga sangat sering terjadi secara berulang. Sekitar 50% orang yang pulih dari episode depresi pertama berpotensi untuk memiliki setidaknya satu lagi episode tambahan dalam hidup mereka. Sekitar 80% orang memiliki dua riwayat episode. Deperesi dapat terjadi berulang kali.

Ketika satu episode terjadi, biasanya dimulai dalam waktu lima tahun dari episode pertama, dan rata-rata seseorang dengan riwayat depresi akan mengalami lima hingga sembilan episode depresi dalam hidup mereka.

Gejala Depresi Kambuhan:

  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Tidur terganggu
  • Berkurangnya tingkat energi sensitif
  • Kecemasan ringan yang menetap

 

Depresi mayor pada orang dewasa:

Depresi adalah gangguan umum yang menimpa orang dewasa dan seringkali dapat memperburuk kualitas hidup serta gangguan fungsi peran. Depresi juga dikaitkan dengan tingginya tingkat perilaku bunuh diri dan kematian. Ketika depresi terjadi (dalam konteks penyakit medis), maka hal ini terkait dengan peningkatan biaya perawatan kesehatan, periode rawat inap yang lebih lama, kerja sama yang buruk dalam menyesuaikan perawatan, dan masih banyak lagi. Perawatan yang buruk dan tingkat morbiditas yang tinggi.

Penyebab depresi pada orang dewasa dapat dikaitkan dengan sulitnya mengubah peran:

  • Pendidikan dan penghasilan yang rendah
  • Kelahiran anak pada usia remaja
  • Masalah pernikahan
  • Pekerjaan yang tidak stabil
  • Pekerjaan yang sangat kompetitif dan stres

Gejala utama depresi pada orang dewasa meliputi:

  • Seringkali merasa sedih atau tertekan
  • Kehilangan minat atau kesenangan dan menghindari pertemuan sosial
  • Energi menurun dan merasa kelelahan
  • Tingkat konsentrasi dan perhatian menurun
  • Harga diri dan kepercayaan diri menurun
  • Perasaan bersalah dan tidak berharga
  • Pandangan yang suram dan pesimis tentang masa depan
  • Pikiran atau tindakan menyakiti diri sendiri atau keinginan untuk bunuh diri
  • Tidur yang terganggu atau insomnia
  • Ditandai dengan berkurangnya nafsu makan

 

Kriteria gangguan depresi mayor DSM-5

depressive disorder criteria DSM-5

Menurut DSM-5, diagnosis depresi berat dapat dibuat dengan dipenuhinya kriteria seperti berikut:

Minimal lima dari gejala di bawah ini harus terjadi setidaknya selama dua minggu dan mencerminkan perubahan peran sebelumnya. Selain itu, setidaknya salah satu gejalanya adalah suasana hati yang buruk atau keilangan minat dan kesenangan.

  • Seseorang lebih sering merasa tertekan sepanjang hari dan terjadi hampir setiap hari. Kondisi ini dapat terlihat oleh orang lain maupun diri sendiri.
  • Dia lebih sering kehilangan minat terhadap semua atau sebagian besar kegiatan sepanjang hari dan terjadi hampir setiap hari.
  • Setiap harinya, seseorang mengalami kenaikan atau penurunan berat badan dalam jumlah besar, atau memiliki nafsu makan yang menurun atau meningkat.
  • Dia menderita insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari.
  • Setiap hari, saya memiliki hambatan psikomotorik yang terlihat oleh orang lain maupun diri saya sendiri.
  • Dia merasa lelah atau penat hampir setiap hari.
  • Seseorang merasa dirinya tidak berharga atau memiliki perasaan bersalah yang ekstrim.
  • Setiap hari, kemampuan seseorang untuk berpikir, fokus, atau membuat penilaian terus memburuk.
  • Dia memiliki pikiran tentang bunuh diri secara terus-menerus, keinginan bunuh diri (tanpa rencana tertentu), upaya bunuh diri, atau rencana yang pasti untuk bunuh diri.
  • Gejala-gejala yang disebutkan di atas menghasilkan tekanan klinis yang substansial atau menghambat fungsi sehari-hari.
  • Episode depresi bukan karena efek fisiologis dari obat atau kondisi medis lainnya.
  • Kejadian episode tidak cukup dijelaskan dengan adanya penyakit spektrum skizofrenia tertentu atau tidak terdefinisi dan tidak ada gangguan psikotik lainnya.
  • Orang tersebut tidak pernah mengalami episode manik atau hipomanik.

Kode diagnostik untuk gangguan depresi mayor didasarkan pada frekuensi episode berulang, tingkat keparahan episode, adanya karakteristik psikotik, dan keadaan remisi. Berikut ini adalah kodenya:

Keparahan

  • Ringan
  • Sedang
  • Parah
  • Dengan Ciri Psikotik
  • Dalam Emisi Parsial
  • Dalam Remisi Penuh
  • Tidak ditentukan


Epidemiologi

Penyakit depresi mayor adalah kondisi mental yang umum. Kondisi ini memiliki prevalensi seumur hidup mulai dari 5 -17%, dengan rata-rata 12%. Tingkat prevalensi pada wanita adalah sekitar dua kali lipat dari laki-laki. Perbedaan ini telah dikaitkan dengan variasi hormon, konsekuensi dari melahirkan anak, tekanan psikologis yang berbeda pada pria dan wanita, dan model perilaku ketidakberdayaan yang dipelajari. Terlepas dari kenyataan bahwa usia rata-rata onset adalah sekitar 40 tahun, ada penelitian baru yang mengungkapkan bahwa peningkatan kejadian pada populasi yang lebih muda disebabkan karena penggunaan alkohol dan zat lain yang disalahgunakan.

MDD lebih sering terjadi pada mereka yang bercerai, berpisah, atau berduka, dan tidak memiliki interaksi interpersonal yang bermakna. Dalam prevalensi MDD tidak ada perbedaan antara ras atau posisi sosial ekonomi. Seseorang yang menderita MDD sering memiliki penyakit yang diderita secara bersamaan dengan kondisi seperti penyalahgunaan zat, gangguan panik, gangguan kecemasan sosial, dan gangguan obsesif-kompulsif.

Adanya penyakit komorbid pada orang dengan MDD dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Selain itu, depresi lebih sering terjadi pada orang tua yang memiliki masalah medis yang menyertai. Depresi lebih sering terjadi di lingkungan pedesaan daripada di daerah perkotaan.

 

Patofisiologi gangguan depresi mayor

Asal-usul Gangguan Depresi Mayor diperkirakan beragam, dengan variabel biologis, genetik, lingkungan, dan psikologis, semuanya memainkan peran. Sebelumnya, penyebab terjadinya MDD sebagian besar adalah karena anomali pada neurotransmiter, terutama serotonin, norepinefrin, dan dopamin.

Hal ini telah ditunjukkan oleh penggunaan beberapa antidepresan dalam pengobatan depresi, seperti penghambat reseptor serotonin selektif, penghambat reseptor serotonin-norepinefrin, dan penghambat reseptor dopamin-norepinefrin. Pada orang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri, kandungan senyawa metabolit serotonin dalam tubuhnya menurun. Hipotesis terbaru telah menunjukkan bahwa sebagian besar dari hal itu terkait dengan sistem neuroregulasi dan sirkuit otak yang lebih rumit. Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan lanjutan dari sistem neurotransmiter.

GABA, neurotransmiter penghambat, serta glutamat dan glisin, keduanya adalah neurotransmiter rangsang yang sangat penting dan telah diidentifikasi berperan dalam asal-usul depresi. Orang yang depresi mengakibatkan berkurangnya kadar GABA dalam plasma, CSF, dan otak mereka. GABA dianggap bekerja sebagai antidepresan dengan memblokir jalur naik monoamina, termasuk sistem mesokortikal dan mesolimbik.

Karakteristik antidepresan sebagai obat yang menentang reseptor NMDA telah diselidiki. Tiroid dan ketidakseimbangan hormon pertumbuhan juga telah dikaitkan dengan asal-usul gangguan suasana hati. Beberapa kesulitan dan trauma di masa kanak-kanak juga dihubungkan dengan perkembangan depresi di kemudian hari.

Stres dini yang parah dapat menghasilkan perubahan dramatis dalam neuroendokrin dan respons perilaku. Hal ini kemudian menyebabkan kelainan anatomi di korteks serebral, dan akibat selanjutnya adalah depresi berat. Pencitraan otak struktural dan fungsional pada orang depresi menunjukkan hiperintensi yang lebih besar di daerah subkortikal dan penurunan metabolisme otak anterior di sisi kiri.

Studi tentang keluarga, adopsi, dan anak kembar semuanya membuktikan bahwa gen memiliki peran dalam risiko depresi. Saudara kembar dengan MDD memiliki tingkat konkordansi yang sangat tinggi menurut penelitian genetik, terutama kembar monozigot. Pengalaman hidup dan kualitas kepribadian juga terbukti memainkan pengaruh.

Menurut teori ketidakberdayaan, timbulnya depresi berhubungan dengan pengalaman kejadian yang tidak terkendali. Depresi, menurut teori kognitif, muncul sebagai akibat dari kesalahan kognitif pada mereka yang cenderung mengalami depresi.

 

Penyakit somatik yang terkait dengan depresi

Sensasi somatik sangat sering terjadi pada depresi dan penyakit mental lainnya. Meskipun gejala somatik umum terjadi pada individu yang depresi, mereka memiliki bobot yang jauh lebih sedikit daripada gejala depresi inti dalam diagnosis depresi.

Tahap klinis dari suasana hati yang sedih ditandai dengan gejala tubuh yang menyakitkan maupun tidak menyakitkan.

 

Diagnosis gangguan depresi mayor

Gangguan depresi mayor merupakan diagnosis klinis; sebagian besar ditentukan oleh riwayat klinis pasien dan evaluasi kondisi mental. Seiring dengan simtomatologi, wawancara klinis harus mencakup riwayat medis, riwayat keluarga, riwayat sosial, dan riwayat penggunaan narkoba. Informasi jaminan dari keluarga/teman pasien adalah komponen penting dari pemeriksaan kejiwaan.

Meskipun tidak ada pengujian obyektif yang tersedia untuk mendiagnosis depresi, penelitian laboratorium rutin seperti akun darah lengkap dengan diferensial, panel metabolisme komprehensif, hormon perangsang tiroid, T4 bebas, vitamin D, urinalisis, dan skrining toksikologi tetap dilakukan untuk memilah penyebab organik atau medis depresi.

Seseorang yang menderita depresi sering datang kepada dokter perawatan primer untuk membahas masalah somatik yang berkaitan dengan depresi mereka, daripada mencari ahli kesehatan mental. Pada hampir sebagian kasus, pasien menyangkal bahwa mereka mengalami gejala depresi. Mereka sering dirujuk untuk melakukan terapi oleh anggota keluarga atau dikirim oleh majikan untuk pemeriksaan terkait masalah penarikan sosial dan penurunan aktivitas. Pada setiap pertemuan, sangat penting untuk memeriksa pasian terkait pikiran bunuh diri atau pembunuhan.

 

Lakukan tes depresi secara mandiri

Memiliki suasana hati yang buruk atau merasa tegang adalah kejadian biasa bagi kita semua. Ketika perasaan ini menetap, Anda mungkin menderita depresi atau kecemasan – atau keduanya. Tes mandiri ini berisi pertanyaan yang akan membantu dalam menilai situasi Anda saat ini dan menyusun strategi untuk merasa lebih baik dengan cepat.

Ketika mengalami situasi yang sulit, wajar bagi Anda merasa tertekan untuk sementara waktu; jenis perasaan melankolis dan kehilangan dapat membantu untuk menentukan siapa diri kita. Namun, jika Anda sering merasa sedih atau tidak senang untuk waktu yang lama, Anda mungkin menderita depresi.

Ikuti tes mandiri ini untuk melihat apakah Anda menunjukkan gejala peringatan depresi. Tes ini tidak akan memberi Anda diagnosis, tetapi akan membantu dalam menentukan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

 

Gangguan depresi mayor dengan ciri psikotik

Depresi psikotik, yang juga dikenal sebagai gangguan depresi mayor dengan unsur-unsur psikotik, adalah penyakit kesehatan medis atau mental yang serius. Kondisi ini membutuhkan perawatan cepat dan pemantauan konstan oleh spesialis kesehatan medis atau mental.

Penyakit depresi mayor adalah kondisi mental yang umum dan berdampak merugikan pada banyak aspek kehidupan seseorang. Kondisi ini berpengaruh pada suasana hati dan perilaku, serta kebiasaan berbeda yang terjadi pada proses tubuh seperti makan dan tidur. Orang yang menderita depresi serius sering kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya mereka gemari. Selain itu, juga mengalami kesulitan dalam melakukan tugas sehari-hari. Mereka bahkan mungkin merasa bahwa seolah-olah hidup saat ini tidak layak untuk dijalani.

 

Gangguan bipolar (BD)

Depresi pada pasien dengan gangguan bipolar (BD) menghadirkan tantangan klinis yang signifikan. Karena skizofrenia dominan, bahkan dalam kasus BD yang diobati sekali pun, depresi tidak hanya dikaitkan dengan skizofrenia. Dengan tambahan penyakit lainnya, gangguan medis umum, komplikasi, dan risiko bunuh diri yang tinggi, dapat berakibat kematian.

 

Diagnosis dan Faktor Risiko Gangguan Bipolar (BD):

Sekitar 12-17% kasus, Gangguan Bipolar tidak terdeteksi hingga menunjukkan tanda suasana hati yang "berubah" menjadi hipomania atau mania, baik secara spontan atau karena zat yang meningkatkan suasana hati.

Faktor-faktor yang menunjukkan diagnosis BD

  • Mania familial, psikosis, "gangguan saraf" atau rawat inap psikiatri
  • Awal penyakit, sering dengan gejala depresi
  • Suasana hati siklotimia/naik turun
  • Beberapa kekambuhan (misalnya 4 episode depresi dalam waktu 10 tahun)
  • Depresi dengan agitasi khusus, kemarahan, insomnia, lekas marah, banyak bicara
  • Ciri lainnya adalah gejala "campuran" atau hipomanik, atau psikotik.
  • Secara klinis "memburuk" terutama dengan sifat campuran selama pengobatan antidepresan
  • Pikiran dan tindakan bunuh diri
  • Penyalahgunaan zat

 

Gangguan depresi mayor pada anak-anak dan remaja

depressive disorders in children

Gangguan depresi mayor (MDD) dapat memiliki dampak signifikan pada masa kanak-kanak dan remaja. Gangguan ini dikaitkan dengan performa di sekolah, masalah interpersonal di kemudian hari, menjadi orang tua awal, dan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental lainnya, serta gangguan penggunaan zat. Diagnosis MDD pada anak-anak seringkali kurang terlihat. Hanya ada sekitar 50% remaja yang terdiagnosis sebelum mencapai usia dewasa.

Gejala depresi pada anak usia 3-8 tahun meliputi:

  • Mereka memiliki keluhan yang masuk akal.
  • Lebih mudah tersinggung
  • Menunjukkan lebih sedikit tanda-tanda depresi
  • Diperlihatkan dengan keprihatinan
  • Perubahan perilaku yang dapat diamati

Setelah seorang anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, ciri-ciri gejala konsisten dengan kriteria Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5):

  • Pemuda dengan hipersomnia ringan
  • Perubahan berat badan dan peningkatan nafsu makan
  • Ilusi yang lebih sedikit dibandingkan dengan orang dewasa

 

Depresi postpartum

Depresi postpartum (PPD) memengaruhi satu dari setiap tujuh wanita. Kebanyakan wanita pulih dengan cepat dari sindrom baby blues, sedangkan PPD berlangsung jauh lebih lama dan berdampak signifikan pada kemampuan wanita untuk kembali ke fungsi normalnya.

PPD berdampak pada ibu dan hubungan dengan anaknya. PPD merusak reaksi dan perilaku otak ibu. Depresi postpartum paling sering terjadi dalam waktu 6 minggu setelah melahirkan. PPD memengaruhi sekitar 6,5% hingga 20% wanita. Hal ini lebih sering terjadi pada gadis remaja, ibu yang memiliki bayi prematur, dan wanita yang tinggal di kota.

Menurut sebuah penelitian, ibu Afrika-Amerika dan Hispanik melaporkan awal gejala pada saat 2 minggu setelah kelahiran, tetapi ibu kulit putih melaporkan jika gejala muncul setelahnya.

 

Gangguan disforik pramenstruasi

Gejala pramenstruasi adalah sekelompok gejala psikologis, perilaku, dan fisik yang terjadi dalam pola siklus sebelum menstruasi dan kemudian mereda setelah periode menstruasi. Kondisi ini dialami oleh wanita usia reproduksi. Mayoritas wanita mengalami rasa sakit yang relatif ringan. Selain itu, gejalanya tidak mengganggu kehidupan pribadi, sosial, atau profesional mereka; Namun, sebanyak 5% hingga 8% wanita mengalami gejala sedang hingga berat yang dapat mengakibatkan penderitaan dan gangguan fungsional yang cukup besar.

Semua wanita usia reproduksi, dari menstruasi pertama hingga menopause, mungkin mengalami gejala pramenstruasi. Gejala pramenstruasi adalah masalah khusus bagi wanita usia reproduksi. Di Amerika Serikat, sekitar 70% hingga 90% wanita usia reproduksi melaporkan setidaknya beberapa nyeri pramenstruasi.

Sekitar sepertiga dari wanita-wanita ini menunjukkan gejala yang cukup parah untuk diagnosis PMS. PMDD, jenis kompleks yang paling parah dari gejala pramenstruasi, dialami oleh sekitar 3% hingga 8% dari pasien PMS ini.

 

Perawatan gangguan depresi mayor

Pengobatan gangguan depresi mayor (MDD) pada orang dewasa:

Pilihan pengobatan untuk gangguan depresi mayor meliputi farmasi, psikologis, intervensi, dan perubahan gaya hidup. Obat-obatan atau/dan psikoterapi digunakan untuk mengobati MDD di awal.

Pengobatan kombinasi, yang mencakup obat-obatan dan psikoterapi telah terbukti lebih bermanfaat daripada hanya dilakukan perawatan. Terapi elektrokonvulsif telah terbukti lebih efektif daripada pengobatan lain untuk menangani depresi mayor yang parah.

Psikoterapi pasien:

Edukasi dan pengobatan depresi dapat diberikan kepada semua pasien. Jika memungkinkan, edukasi dapat diberikan kepada anggota keluarga yang bersangkutan.

Edukasi tentang pilihan pengobatan yang tersedia akan membantu pasien membuat keputusan, mengantisipasi efek samping, dan mengikuti pengobatan yang ditentukan. Aspek penting lain dari edukasi adalah untuk menginformasikan kepada pasien dan anggota keluarga yang bersangkutan tentang durasi kerja antidepresan.

Farmakoterapi dan pengobatan akut:

Antidepresan dapat digunakan sebagai modalitas pengobatan utama untuk pasien dengan depresi sedang maupun berat.

Ciri klinis yang mungkin menganjurkan penggunaan obat ini adalah modalitas terapeutik yang telah diakui termasuk riwayat respons positif sebelumnya terhadap antidepresan, tingkat keparahan gejala, gangguan tidur yang signifikan, dan masalah nafsu makan, serta agitasi atau harapan kebutuhan untuk melakukan perawatan.

Pasien depresi berat dengan ciri psikotik akan memerlukan antidepresan dan terapi antipiretik dan/atau elektrokonvulsif (ECT).

Semua antidepresan bekerja efektif meskipun profil efek sampingnya berbeda. Obat-obatan berikut ini telah disetujui oleh FDA untuk pengobatan MDD:

  • Fluoxetine, sertraline, citalopram, escitalopram, paroxetine, dan fluvoxamine adalah contoh penghambat pengambilan kembali serotonin selektif (SSRIs). Mereka biasanya digunakan sebagai terapi pertama kali dan merupakan antidepresan yang paling sering diresepkan.
  • Venlafaxine, duloxetine, desvenlafaxine, levomilnacipran, dan milnacipran adalah contoh penghambat pengambilan kembali serotonin-norepinefrin (SNRIs). Mereka sering digunakan untuk mengobati orang depresi yang juga memiliki masalah rasa sakit.
  • Trazodone, vilazodone, dan vortioxetine adalah serotonin modulator.
  • Bupropion dan mirtazapine adalah contoh antidepresan atipikal. Ketika pasien memiliki efek samping seksual dari SSRIs atau SNRIs, mereka sering direkomendasikan sebagai monoterapi atau sebagai obat tambahan.
  • Amitriptyline, imipramine, clomipramine, doxepin, nortriptyline, dan desipramine adalah antidepresan trisiklik (TCAs).
  • Tranylcypromine, phenelzine, selegiline, dan isocarboxazid adalah contoh penghambat oksidase monoamine (MAOI). Karena tingginya prevalensi efek samping dan kematian akibat overdosis, MAOI dan TCAs tidak digunakan secara rutin.
  • Obat lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas antidepresan termasuk penstabil suasana hati dan antipsikotik.

 

Peran Yoga dan Meditasi dalam Mengolah Depresi:

Role of Yoga and Meditation

Yoga yang berasal dari India kuno diakui sebagai bentuk pengobatan alternatif yang menggunakan praktik pikiran-tubuh. Filosofi Yoga didasarkan pada 8 anggota badan yang sebaiknya digambarkan sebagai prinsip etis untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan bertujuan. Untuk mengelola depresi:

  • Membuat otot menjadi rileks sehingga mengurangi rasa sakit dan nyeri
  • Menciptakan energi yang seimbang
  • Penurunan pernapasan dan detak jantung
  • Menurunkan tekanan darah dan kadar kortisol
  • Meningkatkan aliran darah
  • Mengurangi stres dan kecemasan melalui ketenangan
  • Memperbaiki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti nyeri sendi (arthritis), kanker, penyakit mental, dan banyak lagi.

 

Pengobatan gangguan depresi mayor (MDD) pada anak-anak dan remaja

Psikoterapi penting bagi para pasien dan keluarganya, sehingga semua orang sadar akan rencana dan tujuan pengobatan. Ketika edukasi diberikan, pengobatan ditingkatkan. Edukasi mental meliputi tanda-tanda dan gejala depresi, perjalanan klinis penyakit, risiko eksaserbasi, pilihan pengobatan, dan saran orang tua tentang cara berinteraksi dengan remaja yang depresi dalam lingkup psikiatri.

Menurut studi Sandra Mullen, psikoterapi, bersama dengan obat-obatan, merupakan pengobatan yang sering direkomendasikan untuk gangguan depresi mayor (MDD) pada anak-anak dan remaja yang diperiksa untuk peningkatan risiko depresi. Pikiran bunuh diri, efek antidepresan (ADEs), termasuk transisi ke hipomania/mania.

 

Pengobatan untuk depresi bipolar

Depresi bipolar tetap menjadi tantangan klinis. Pilihan pengobatannya terbatas, terutama dalam pengelolaan fase akut depresi bipolar. Saat ini hanya ada tiga terapi obat yang disetujui - OFC, quetiapin (pelepasan segera atau diperpanjang), dan latuda (monoterapi litium atau terapi adjuvan atau valproat). Ketiga agen memiliki daya kemanjuran yang sama tetapi berbeda dalam hal daya tahan.

Agen dan perawatan nonfarmakologi yang tidak disetujui seperti lamotrigin, anti-depresan, modafinil, pramipexole, ketamin, dan terapi elektrokonvulsif (ECT) sering diresepkan untuk mengobati depresi bipolar akut.

 

Pengobatan untuk depresi berulang:

Beberapa pasien mungkin mengalami episode depresi berulang sepanjang hidupnya kecuali dilakukan terapi perawatan untuk mencegah kekambuhan. Pengobatan harus mencakup psikoterapi dan farmakoterapi, sedangkan dosis umumnya tidak boleh dikurangi setelah remisi.

 

Diagnosis Banding

Sangat penting untuk memilah gangguan depresi yang disebabkan oleh kondisi medis lain, gangguan depresi yang diinduksi zat/obat, distimia, siklotimia, kehilangan, gangguan penyesuaian dengan suasana hati yang tertekan, gangguan bipolar, gangguan skizoafektif, skizofrenia, gangguan kecemasan, dan gangguan makan ketika mengevaluasi MDD. Gejala depresi dapat berkembang sebagai akibat dari faktor-faktor berikut:

  • Penyebab neurologis seperti kecelakaan serebrovaskular, sklerosis ganda, epilepsi, penyakit Parkinson, dan penyakit Alzheimer
  • Endokrinopati seperti diabetes, gangguan tiroid, dan gangguan adrenal
  • Gangguan metabolisme seperti hiperkalsemia dan hiponatremia
  • Obat/zat penyalahgunaan: steroid, antihipertensi, antikonvulsan, antibiotik, obat penenang, hipnotik, alkohol, penarikan stimulan
  • Kekurangan nutrisi seperti kekurangan vitamin D, B12, B6, kekurangan zat besi atau folat
  • Penyakit menular seperti HIV dan sifilis
  • Tumor ganas

 

Prognosa

Episode depresi pada gangguan depresi mayor dapat berlangsung selama 6 sampai 12 bulan jika tidak diobati. Sekitar dua pertiga orang dengan MDD berpikiran untuk bunuh diri, dan sekitar 10-15% melakukannya. MDD adalah kondisi kronis dan berulang; tingkat kekambuhan setelah episode pertama adalah sekitar 50%, 70% setelah episode kedua, dan 90% setelah episode ketiga. Sekitar 5-10% orang dengan MDD mengembangkan gangguan bipolar.

Pasien dengan episode sedang, kurangnya gejala psikotik, aturan pengobatan yang ditingkatkan, sistem pendukung yang kuat, dan fungsi premorbid yang memadai memiliki prognosis positif untuk MDD. Dengan adanya kondisi mental yang menyertai, seperti gangguan kepribadian, rawat inap berkali-kali, dan onset usia lanjut, maka prognosisnya buruk.

 

Komplikasi

MDD adalah salah satu penyebab utama disabilitas di dunia. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan gangguan fungsional yang parah, tetapi juga memiliki dampak negatif pada keterkaitan interpersonal dan mengurangi kualitas hidup seseorang. Seseorang yang menderita MDD berada pada risiko tinggi untuk mengalami kecemasan komorbid dan gangguan penggunaan narkoba yang meningkatkan risiko bunuh diri.

Diabetes, hipertensi, penyakit paru obstruktif kronis, dan penyakit arteri koroner semuanya dapat diperburuk oleh depresi. Seseorang yang mengalami depresi cenderung memiliki perilaku merusak diri sendiri sebagai cara untuk menghadapi situasi. MDD cukup melemahkan apabila tidak diobati.

 

Kesimpulan

Gangguan depresi mayor (MDD) diklasifikasikan sebagai penyebab utama ketiga beban penyakit di seluruh dunia oleh WHO pada tahun 2008, dengan kondisi yang diantisipasi dapat mencapai peringkat pertama pada tahun 2030.

Kondisi ini didiagnosis ketika seseorang memiliki suasana hati yang buruk atau tertekan secara terus-menerus, anhedonia (kehilangan minat pada kegiatan yang disenangi), perasaan bersalah atau tidak berharga, kekurangan energi, konsentrasi yang buruk, perubahan nafsu makan, keterbelakangan psikomotor atau agitasi, kesulitan tidur, dan pikiran untuk bunuh diri.

Untuk pengobatan MDD yang efektif dan sukses, diperlukan pendekatan multidisiplin. Layanan kolaboratif ini meliputi dokter perawatan primer dan psikiater, perawat, terapis, pekerja sosial, dan manajer kasus. Skrining depresi dalam pengaturan perawatan primer sangat penting untuk dilakukan.

Artikel

Artikel Lainnya