Semua hal yang perlu Anda ketahui tentang Herpes

Tanggal diperbarui: 27-Nov-2022

10 menit membaca

Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1)

Herpes simplex virus tipe 1 dianggap sangat menular keberadaannya di seluruh dunia.

Secara statistik, sebagian besar infeksi dengan HSV-1 muncul pada masa kanak-kanak. Infeksi bersifat permanen, karena virus ini bertahan seumur hidup. Banyak infeksi HSV-1 berada di dalam atau di sekitar mulut (herpes oral, orolabial, oral-labial, atau herpes oral wajah). Juga, ada juga infeksi HSV-1 yang terkait dengan herpes genital (area genital dan / atau anal).

Menurut World Health Organisation (WHO), telah dilaporkan bahwa pada tahun 2016, hampir 3,7 miliar orang di bawah 50 tahun positif HSV-1. Orang-orang ini menyumbang 67% dari populasi global. Menariknya, tingkat prevalensi tertinggi infeksi HSV-1 telah tercatat di Afrika, di mana 88% penduduknya positif. Sementara, tingkat prevalensi terendah infeksi HSV-1 berada di geografis dan ekonomis dunia yang berlawanan yaitu benua Amerika, dimana hanya 45% dari populasi yang terinfeksi. Namun, tingkat prevalensi infeksi HSV-1 berubah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Infeksi HSV-1 dapat berkembang menjadi herpes oral dan herpes genital.

Gejala herpes

Menderita herpes tidak selalu berarti bahwa gejala akan muncul, karena sebagian besar orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala.

Peradangan herpes biasanya terdiri dari lepuh yang menyakitkan dan luka terbuka. Sebelum terjadinya luka, orang yang terinfeksi bisa merasakan sensasi gatal, kesemutan atau terbakar di daerah yang meradang.

Setelah herpes pertama meradang, lepuh dapat kambuh seiring berjalannya waktu. Frekuensi kekambuhan tergantung dari masing-masing orang.

 

Transmisi HSV-1

Transmisi HSV-1 sebagian besar dimungkinkan melalui kontak oral-ke-oral. Kontak dengan luka yang terinfeksi, air liur, atau permukaan lain di dalam atau di dekat mulut, dapat dengan mudah menyebabkan penularan virus.

HSV-1 juga dapat menjadi katalisator untuk herpes genital. Jenis herpes ini ditularkan setelah terjadi kontak antara area genital dengan area mulut yang terinfeksi.

Meskipun tidak ada peradangan dan virus tampaknya tidak aktif di inangnya, namun virus masih dapat ditularkan melalui kontak antara mulut atau kulit dengan permukaan lain yang tampaknya tidak terinfeksi.

Risiko penularan terbesar adalah peradangan oleh adanya luka aktif.

Biasanya, orang-orang yang sudah terinfeksi HSV-1 dan mengalami peradangan oral bukan merupakan subjek infeksi HSV-1 di area genital.

Fakta yang sangat penting tentang infeksi HSV-1 adalah bahwa virus ini tidak melindungi orang yang terinfeksi HSV-2.

Dalam situasi yang sangat jarang terjadi, seorang ibu yang memiliki herpes genital, yang disebabkan oleh HSV-1 dapat menularkannya ke anaknya selama kelahiran. Ini dikenal sebagai herpes neonatal.

Menurut WHO, ada penelitian yang sedang dilakukan untuk mengembangkan vaksin yang dapat mencegah infeksi HSV-1.

 

Komplikasi infeksi HSV-1

Dalam kasus orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, misalnya orang yang positif HIV, HSV-1 dapat menimbulkan gejala yang lebih parah dan kekambuhan yang lebih tinggi. Dalam kasus yang sangat jarang, infeksi HSV-1 dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya, seperti ensefalitis (infeksi otak) atau keratitis (infeksi mata).

Komplikasi lain yang dapat ditimbulkan HSV-1 adalah herpes neonatal. Jenis perkembangan herpes ini bisa terjadi ketika bayi terpapar HSV-1 atau HSV-2 di saluran genital selama proses kelahiran. Meskipun herpes neonatal adalah kondisi langka (terjadi pada sekitar 10 dari setiap 100.000 kelahiran di seluruh dunia), herpes ini merupakan kondisi rumit yang dapat menyebabkan kecacatan neurologis atau bahkan kematian. Wanita yang positif terpapar herpes genital sebelum kehamilan sebagian besar tidak beresiko. Risiko ini cukup meningkat ketika seorang wanita terinfeksi HSV untuk pertama kalinya selama kehamilan, karena selama infeksi awal, level tertinggi virus ditemukan di saluran genital.

Komplikasi lain yang dapat terjadi akibat infeksi virus herpes simplex, baik tipe 1 maupun tipe 2 berkaitan dengan konteks psikososial. Karena herpes oral yang meradang bisa menjadi tidak estetik, hal ini mungkin mempengaruhi kehidupan sosial orang yang terinfeksi, karena mungkin mengarah pada stigma atau bahkan tekanan psikologis.

Selain itu, dalam kehidupan sosial, komplikasi herpes genital benar-benar dapat mempengaruhi kualitas hidup dan dapat mengubah hubungan seksual.

Seiring berjalannya waktu, setiap orang yang terinfeksi biasanya beradaptasi dengan situasi dan terbiasa hidup dengan virus.

 

Perawatan herpes

Meskipun, infeksi herpes adalah kondisi seumur hidup dan tidak dapat disembuhkan, peradangan pada herpes dapat diobati. Daftar obat yang digunakan untuk meredakan gejala berasal dari obat antivirus seperti Famciclovir, Valacyclovir atau Acyclovir dan sangat efisien.

Jika anda mengalami wabah herpes, untuk lebih cepat menyembuhkan daerah yang terinfeksi, anda harus memperhatikan rekomendasi berikut:

  • Jaga area yang terinfeksi tetap bersih dan kering;
  • Hindari menyentuh luka atau lepuh;
  • Bersihkan tangan setelah kontak dengan area yang terinfeksi;
  • Hindari kontak kulit ke kulit sejak pertama kali anda melihat tanda-tanda herpes sampai luka sembuh.

 

Virus Herpes Simplex tipe 2 (HSV-2)

Virus herpes lainnya, Virus Herpes Simplex tipe 2 juga menyebar di tingkat global. Perbedaan antara HSV-1 dan HSV-2 adalah bahwa HSV-2 ditularkan secara eksklusif melalui hubungan seksual dan menyebabkan herpes genital. Meskipun herpes genital dapat dihasilkan oleh HSV-1, penyebab utama herpes genital sebenarnya adalah infeksi HSV-2.

Menurut WHO, selama 2016, HSV-2 bertanggung jawab menyebabkan herpes genital pada sekitar 491 juta orang berusia 15 hingga 49 tahun. Dengan kata lain, sekitar 13% dari populasi dunia terinfeksi HSV-2 pada saat laporan ini dibuat. Selain itu, data yang diperoleh dari WHO menunjukkan bahwa perbandingan infeksi HSV-2 antara pria dan wanita sangat jauh. Dari sekitar 491 juta orang yang terinfeksi, 313 juta adalah wanita sementara hanya 178 pria yang terinfeksi.

Perbedaan infeksi antara pria dan wanita dianggap karena penularan virus lebih efektif dari pria ke wanita, sementara penularan dari wanita ke pria jauh kurang efektif.

Menurut sumber yang sama, prevalensi infeksi HSV-2 dilaporkan tertinggi di Afrika (44% dari populasi adalah wanita yang terinfeksi, sementara pria hanya 25%) dan yang terendah di Amerika (dimana 24% dari populasi adalah wanita yang terinfeksi dan 12% persen dari populasi yang terinfeksi adalah pria).

Laporan dari WHO menunjukkan bahwa tingkat prevalensi meningkat seiring bertambahnya usia, bahkan banyak kasus infeksi pertama kali terjadi pada kalangan remaja.

Sama seperti infeksi HSV-1, infeksi HSV-2 tidak dapat disembuhkan dan bertahan seumur hidup.

 

Gejala infeksi HSV-2

Infeksi HSV-2 bisa tanpa gejala, sama seperti infeksi HSV-1, atau dapat menunjukkan gejala ringan yang tidak dapat dikenali. Menurut studi klinis, hanya sekitar 10% dan 20% dari mereka yang tiba di klinik melaporkan diagnosis infeksi HSV-2 sebelumnya. Selain itu, laporan klinis yang sama yang mempelajari orang-orang dengan HSV-2, telah menyoroti fakta bahwa dari mereka yang baru terinfeksi, hanya sampai sepertiga memiliki gejala.

Gejala infeksi HSV-2

Infeksi HSV-2 menyebabkan herpes genital. Ciri-ciri herpes genital ditunjukkan oleh adanya satu atau lebih lepuh genital atau anal, atau adanya luka terbuka. Luka terbuka disebut bisul. Ketika pertama terinfeksi HSV-2, gejala herpes genital juga dapat berupa demam, nyeri tubuh atau pembengkakan kelenjar getah bening.

Selain itu, mereka yang terinfeksi HSV-2 juga bisa merasakan sensasi kesemutan atau nyeri ringan di kaki, pinggul atau pantat, yang sebelum timbul luka terbuka di area genital atau anal.

 

Transmisi HSV-2

Ciri utama HSV-2 adalah dapat menular secara eksklusif melalui hubungan seksual.

Virus ini ditularkan melalui kontak permukaan alat kelamin, luka, atau cairan seseorang yang sudah terinfeksi. Bahkan jika tidak ada gejala pada orang yang terinfeksi, virus HSV-2 seringkali dapat ditularkan hanya melalui kontak antara kulit orang yang terinfeksi dengan area genital atau anal orang lain.

Sama seperti HSV-1, jarang terjadi, HSV-2 dapat ditularkan dari ibu ke bayi yang baru lahir dan menyebabkan herpes neonatal.

 

Komplikasi infeksi HSV-2

Studi menunjukkan bahwa HSV-2 dan HIV menciptakan sinergi yang kuat. Terinfeksi HSV-2 sangat meningkatkan kemungkinan tertular infeksi HIV baru hampir tiga kali lipat. Juga, mereka yang terinfeksi kedua virus, cenderung lebih mudah menyebarkan HIV kepada orang lain. Selain itu, infeksi HSV-2 merupakan korban dari mereka yang sudah terinfeksi HIV. Statistik menunjukkan bahwa antara 60% hingga 90% dari mereka yang terinfeksi HIV juga terinfeksi HSV-2.

Dibandingkan dengan infeksi HSV-1, yang kemungkinan komplikasinya terbatas dan inang biasanya sehat, pada infeksi HSV-2, infeksi kedua jauh lebih berbahaya jika mencapai orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh terganggu. Misalnya, mereka yang terinfeksi HSV-2 dan HIV, sangat mungkin menunjukkan gejala yang lebih parah dan frekuensinyA mungkin juga lebih tinggi.

Meskipun demikian, infeksi HSV-2 dapat menyebabkan namun sangat jarang terjadi pada komplikasi kesehatan yang serius dan berbahaya, seperti meningoencephalitis, esophagitis, hepatitis, pneumonitis, nekrosis retina, atau infeksi yang menyebar.

 

Pencegahan infeksi HSV-2

Agar tetap aman dari infeksi HSV-2, individu yang mengalami herpes genital harus menghindari hubungan seksual untuk semetara, karena virus berada di puncak penularan saat kambuh.

Mereka yang memiliki gejala yang mirip dengan infeksi HSV-2 juga dianjurkan untuk melakukan tes HIV, untuk mendapatkan prosedur pencegahan HIV yang lebih fokus, seperti profilaksis pra-paparan.

Meskipun kondom tidak sepenuhnya mengurangi risiko tertular HSV-2, namun kondom dapat menguranginya sebagian. Sayangnya, HSV-2 dapat tertular hanya dengan menyentuh kulit area genital yang tidak tertutup oleh kondom. Bagi pria, sunat medis dapat mewakili tindakan perlindungan seumur hidup secara parsial terhadap HSV-2, dan terhadao infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan HPV (Human Paillomavirus).

Untuk mencegah herpes neonatal, wanita hamil yang mengetahui dirinya terinfeksi HSV-2 harus mengkomunikasikannya kepada dokter yang bertanggung jawab.

Menurut WHO, saat ini sedang dilakukan penelitian untuk mencegah infeksi HSV-2 melalui vaksinasi atau bahkan mikrobisida topikal (larutan yang dioleskan di vagina atau rektum untuk mencegah dan melindungi infeksi menular seksual - IMS).

 

Oral Herpes

Herpes oral, yang dapat disebut sebagai orolabial, oral-labial, atau herpes oral wajah, paling sering, menginfeksi bibir dan kulit di sekitarnya. Infeksi pada area ini hanya dapat disebabkan oleh HSV-1. Jenis herpes ini juga dapat mempengaruhi area seperti gusi, atap mulut, dan di dalam pipi. Dalam beberapa situasi, bahkan dapat memicu demam dan nyeri otot.

Gejala herpes oral termasuk lepuh dan luka terbuka. Luka yang terjadi di bibir dikenal sebagai "luka dingin". Selain tampilannya yang non estetik, peradangan herpes oral juga berupa rasa gatal dan perasaan terbakar seperti herpes lainnya.

 

Herpes genital

Herpes genital yang disebabkan oleh infeksi HSV-1 biasanya memiliki gejala ringan atau bahkan bisa tanpa gejala. Jika gejalanya muncul, akan ditandai dengan satu atau lebih lepuh atau bisul genital atau anal. Meskipun herpes genital karena HSV-1 biasanya tidak muncul kembali, namun herpes genital yang kambuh bisa menjadi parah.

 

Herpes Zoster

Herpes Zoster atau Shingles, adalah infeksi virus dan disebabkan oleh virus yang sama dengan virus yang menyebabkan cacar air.

Mereka yang mengembangkan Herpes Zoster biasanya sudah sudah mengidap cacar air puluhan tahun sebelumnya. Varicella Zoster Virus (VZV) pertama kali menyebabkan cacar air dan hanya beberapa tahun setelah aktif kembali dan menyebabkan Herpes Zoster.

Herpes zoster dibedakan oleh adanya ruam kulit berwarna merah yang biasanya memicu rasa sakit yang terbakar. Biasanya, kehadiran Herpes zoster berupa garis lecet hanya pada satu sisi tubuh: batang tubuh, leher atau wajah.

Gejala pertama Herpes Zoster terdiri dari bercak kecil yang menyebabkan rasa sakit dan terbakar, yang diikuti oleh ruam merah.

Ruam herpes meliputi:

  • Bercak merah;
  • Lepuh berisi cairan yang mudah pecah;
  • Membungkus dari tulang belakang ke batang tubuh;
  • Gatal;
  • Nyeri.

Beberapa dari mereka yang mengalami Herpes Zoster mungkin mengalami gejala yang lebih serius, seperti:

  • Demam;
  • Menggigil;
  • Sakit kepala;
  • Kelelahan;
  • Kelemahan otot.

Sayangnya, Herpes Zoster juga dapat menyebabkan, tetapi dalam situasi yang sangat jarang, gejala, seperti:

  • Nyeri atau bahkan ruam di area mata;
  • Nyeri di salah satu telinga dan bahkan kehilangan pendengaran;
  • Pusing;
  • Kehilangan rasa;
  • Infeksi bakteri.

 

Herpes di wajah

Ruam pada Herpes Zoster sebagian besar hanya muncul di satu bagian punggung atau dada, tetapi juga dapat menjalar hingga satu bagian wajah.

Jika ruam mendekati telinga, dapat merangsang infeksi yang akibatnya bisa berbahaya seperti gangguan pendengaran, ketidakmampuan dalam menyeimbangkan atau bahkan masalah dalam menggerakkan otot-otot wajah.

Herpes di mata atau herpes zoster ophthalmic muncul pada sekitar 10% hingga 20% dari mereka yang memiliki herpes zoster.

Dalam kasus herpes zoster mata, ruam yang terdiri dari lepuh bisa muncul pada kelopak mata, dahi, atau bahkan pada menyebabkan herpes pada hidung.

Jenis herpes ini dapat dengan mudah mempengaruhi saraf optik dan kornea, yang menyebabkan cedera serius, seperti hilang penglihatan atau bahkan jaringan parut permanen.

Dalam kasus herpes mata, anda harus segera berkonsultasi dengan dokter. Memulai perawatan dalam waktu maksimal 72 jam sejak timbul herpes dapat melindungi dari mencegah komplikasi.

Herpes di mulut atau bahkan herpes di lidah adalah akibat dari herpes zoster. Herpes ini sangat menyakitkan dan mengubah kualitas hidup orang yang terinfeksi karena akan membuatnya sulit untuk makan atau berbicara. Juga, herpes di dalam mulut dapat mempengaruhi rasa.

 

Herpes di pantat

Pantat juga bisa terpapar oleh Herpes zoster. Karena karakteristik Herpes zoster hanya mempengaruhi satu bagian tubuh, dalam kasus herpes pada bokong, mungkin hanya salah satu bagian pantat yang tersentuh oleh herpes.

Gejala herpes zoster pada pantat sebagian besar terdiri dari ruam yang gatal dan nyeri. Beberapa dari mereka yang mengalami herpes pada pantat bisa merasakan sakit, tetapi tidak memiliki ruam yang terlihat.

 

Herpes Genital 

Gejala Herpes genital pada wanita

Herpes pertama muncul pada 2 minggu pertama sejak tertular virus dari orang yang terinfeksi.

Peradangan Herpes genital ditandai oleh gejala seperti:

  • Rasa gatal, kesemutan, atau perasaan terbakar di area vagina atau anus;
  • Gejala mirip flu, termasuk demam;
  • Kelenjar bengkak;
  • Nyeri di kaki, bokong, atau area vagina;
  • Keputihan;
  • Sakit kepala;
  • Nyeri atau sulit buang air kecil;
  • Perasaan tertekan di daerah bawah perut.

Tanda-tanda gejala diikuti oleh munculnya lepuh, luka atau bisul di daerah yang terinfeksi virus. Daerah-daerah ini berupa:

  • Area vagina atau dubur;
  • Dalam vagina;
  • Pada leher rahim;
  • Saluran kemih;
  • Pantat atau paha;

Di bagian lain tubuh anda di mana virus telah masuk;

Dalam beberapa kasus, herpes genital dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah infeksi.

Setelah herpes genital pertama meradang, anda mungkin mengalaminya lagi. Seiring berjalannya waktu, herpes genital secara bertahap akan lebih jarang dan kurang intens.

Aspek paling berbahaya dari herpes genital pada wanita adalah bahwa seorang ibu dapat menginfeksi anaknya selama kelahiran.

Daftar risiko yang terpapar pada anak, karena herpes neonatal, berisi:

  • Kelahiran dini;
  • Masalah otak, kulit atau mata;
  • Ketidakmampuan untuk bertahan hidup.

Anak dapat dengan mudah terlindungi dari infeksi herpes neonatal, jika dokter mengetahui kondisi ibu sejak awal kehamilan. Saat ini, ada obat herpes yang efektif yang menghalangi proses infeksi herpes selama kelahiran.

 

Herpes Genital pada pria

Biasanya, herpes genital pada pria adalah jarang terjadi, karena sebagian besar menyebar ke wanita.

Herpes genital pertama biasanya terjadi dalam waktu minimal 2 hari atau maksimum 30 hari setelah infeksi. Gejalanya termasuk lepuh yang menyakitkan pada penis, skrotum atau pantat.

Sebagai metode pencegahan parsial, sunat medis dapat membantu dalam mencegah herpes genital pada pria.

 

Obat herpes

Herpes adalah kondisi seumur hidup. Setiap peradangan akibat infeksi virus dapat dengan mudah dikelola dan disembuhkan. Sayangnya, tidak ada obat untuk virus ini tetapi mudah-mudahan, dalam waktu dekat, akan ada vaksin yang tersedia untuk melindungi generasi muda agar tidak terinfeksi virus. Mungkin, keberadaan vaksin secara bertahap akan membasmi virus untuk selamanya.

Artikel

Artikel Lainnya